Di Antara Takdir dan Kehendak Bebas

Di Antara Takdir Dan Kehendak Bebas
Di Antara Takdir dan Kehendak Bebas
Oleh: Andi FP Paraga

Waktu membaca "Alhamdulillahi Rabbil alamin", kita diberitahu bahwa alam atau dunia itu ada banyak (alamin), bahkan tak terhitung. Sama dengan mengartikan kata "muslimin" yang artinya banyaknya orang muslim. Tiap alam atau dunia ciptaan  itu tidak mutlak yang dalam beberapa hal secara kualitatif bersifat ambivalen.

Seperti misalnya dunia ini berada di antara neraka di bawah dan surga di atas. Karenanya ia memiliki sifat kenerakaan dan kesurgaan. Atau alam ini berada di antara alam rahim dan alam kubur; ada sifat kehidupan dan kematian.

Ini seperti kedudukan dunia imajinasi, dimana bidang imajinal ini tidak sepenuhnya bersifat jasmaniah atau sepenuhnya bersifat ruhaniah namun padanya berdiri satu spektrum benda benda ciptaan. Dengan begitu semua ciptaan sesungguhnya bersifat imajiner dan relatif karena mewujudkn sifat sifat dengan cara mendua. Semuanya merupakan dunia pertengahan dimana yang satu tidk dapat dipahami tanpa yang lain. Setiap benda itu ada di antara dua benda lainnya.

Karena itu juga kita tidak dapat menemukan cahaya mutlak atau kegelepan mutlak dalam ciptaan, kecuali tingkat kecemerlngan saja yang ada. Maka tidak ada seorangpun yang berpengetahuan tanpa kebodohan, dan sebaliknya. Tidak ada orang yang memiliki pengetahuan mutlak atau kebodohan mutlak, melainkan relatif lebih berpengetahuan atau kurang berpengetahuan saja.

Langit langit hanya tinggi dibandingkan dengan lantai, namun dibandingkan atap dia rendah. Jadi langit langit itu ambivalensi; mendua dengan ketinggian dan kerendahannya.

Sekarang mari kita lihat bayangan dalam cermin, itulah dunia imajiner dimana ia menggabung sifat sifat dari dua sisi; dimana bayangan dan yang asli tidak dapat dibahas secara terpisah. Begitu juga dengan mimpi yang bukan ruh bukan pula badan namun memiliki sifat sifat tertentu yang ruhaniah dan sifat sifat tertentu yang badaniah. Ia ada di antaranya.

Namun karena kedudukannya di tengah atau "di antara" dimana sekaligus memancarkan sifat mendua, maka ia menjadi seimbang. Dengan demikian segala ciptaan, segala alam berada atau dibangun oleh azas keseimbangan.

Jadi ketika saya disukai sekaligus dibenci, atau saya menyukai dan membenci, saya seimbang. Lagi pula mana ada seseorang yang disukai saja oleh semua orang atau mana ada orang yang bisa menyenangkan hati semua orang?

Kita hanya perlu belajar tentang apa yang patut dicintai dan dibenci.

Nah kawan, karena semua ciptaan bersifat imajiner, maka sesuaikanlah dengan hidup yang memiliki imajinasi. Sungguh di antara hatiku hatimu ada imajinasi. Indah lho. Seperti kehidupan manusia yang berada di antara takdir dan kehendak bebas, seperti konsepsi teologi yang paling mendekati kebenaran.

Semangat joss.

Selanjutnya Sebelumnya